Dari Tiga Ratus Ribu Menuju Mimpi: Perjalanan Arga Membangun Penerbitan


Nama pemuda itu Arga. Seorang lulusan sastra yang mencintai buku seperti ia mencintai udara yang ia hirup setiap hari. Buku adalah rumahnya, tempat ia pulang ketika dunia terasa bising. Namun setelah lulus kuliah, kehidupan tidak memberinya banyak pilihan. Ia tinggal di kamar kos kecil, dinding tipis, almari reyot, dan tumpukan buku yang ia rawat seperti harta karun.

Ia ingin mendirikan penerbit—itu mimpinya sejak semester akhir. Tapi realitas selalu mengingatkannya:

“Penerbit butuh modal,”

“Cetak buku itu mahal,”

“Kamu bisa apa dengan uang pas-pasan?”

Yang ia miliki hanyalah tabungan Rp300.000, hasil menahan lapar, menghemat makan, dan mengorbankan banyak keinginan kecil yang sebenarnya sederhana—seperti sekadar membeli kopi sachet.

Pada suatu malam, setelah membantu temannya menyunting naskah puisi, Arga termenung lama. Di hadapannya ada tumpukan tulisan-tulisan bagus dari teman-temannya—cerita pendek, puisi, esai—semuanya punya nyawa, tapi tidak pernah disentuh penerbit mana pun. Hanya terjebak di blog atau hilang di halaman media sosial.

Saat itulah ia merasa ada suara kecil berbisik dalam dirinya:

“Kalau penerbit lain tidak mau menerbitkan buku mereka…

biarlah aku yang melakukannya.”

Itu adalah kalimat yang mengubah seluruh hidupnya.

Langkah Pertama: Penerbitan Digital

Arga realistis. Ia tahu Rp300.000 tidak akan cukup untuk mencetak buku. Tetapi ia tidak ingin menyerah. Jadi ia memulai dari hal yang bisa ia lakukan dengan kemampuannya.

Ia membagi modalnya:

Rp150.000 untuk menyewa mahasiswa desain membuat cover.

Rp100.000 untuk membeli domain dan membuat website sederhana.

Rp50.000 untuk iklan Instagram kecil-kecilan.

Sisanya? Ia mengandalkan kerja kerasnya sendiri.

Layout ia buat sampai dini hari. Editing ia kerjakan tanpa keluhan. Website ia bangun meski hanya berbekal tutorial YouTube.

Ia menawarkan layanan penerbitan digital:

editing ringan – layout – desain cover – e-book publishing.

Beberapa hari pertama sepi. Hanya ada dua orang yang bertanya lewat DM Instagram, tapi keduanya tidak jadi menggunakan jasanya. Namun Arga bertahan. Ia memelihara harapan kecil itu seperti sebatang api mungil di tengah angin besar.

 

Peluang Pertama

Tiga minggu kemudian, sebuah pesan masuk:

“Mas, saya mau nerbitin kumpulan puisi. Bisa bantu?”

Arga menatap layar ponselnya cukup lama. Tangan dan dadanya bergetar. Ini adalah klien pertama dalam hidupnya.

Ia menjawab dengan hati-hati:

“Tentu. Semua lengkap Rp150.000 ya.”

Penulis itu setuju tanpa menawar.

Malam itu Arga bekerja sampai pukul dua pagi, menata kata demi kata dengan penuh cinta. Saat uang itu masuk, ia tidak menjerit atau melompat. Ia hanya duduk, menatap langit-langit kos, merasakan hangat yang merayapi dadanya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa mimpinya bukan lagi sekadar khayalan.

 

Langkah Kedua: Sistem Pre-Order Tanpa Modal

Setelah empat e-book terbit, Arga mulai percaya diri. Ia ingin mencetak buku fisik. Tapi saat melihat daftar harga percetakan—Rp2 juta untuk minimal cetak—lututnya melemas. Ia hampir menyerah.

Hingga ia menemukan strategi pre-order.

Ia merilis cover, membagikan sampel isi, dan membuka pesanan awal. Pembeli membayar dulu, cetak belakangan. Dan sesuatu yang tak ia duga terjadi 57 orang memesan dalam seminggu.

Jumlah itu cukup untuk mencetak 100 eksemplar. Setelah pencetakan selesai, buku-buku itu tiba di kosnya dalam kardus besar. Arga membuka satu buku, menyentuhnya dengan tangan gemetar.

“Akhirnya… buku pertamaku.”

Ia mendapat keuntungan Rp800.000.

Tak besar bagi kebanyakan orang, tapi bagi Arga, itu adalah bukti bahwa mimpinya mulai mengambil bentuk.

 

Langkah Ketiga: Memperluas Jaringan

Arga mulai mengunjungi komunitas penulis, bekerja sama dengan ilustrator, menjalin hubungan dengan percetakan kecil, dan membuka kelas menulis dengan biaya terjangkau.

Kadang ia pulang malam dengan motor yang bensinnya hampir habis, tapi ia selalu membawa pulang satu hal: keyakinan bahwa mimpi ini bisa tumbuh.

 

Titik Balik yang Mengubah Segalanya

Suatu hari, seorang penulis remaja populer di media sosial menghubunginya.

“Mas Arga, saya ingin menerbitkan novel dengan sistem pre-order. Bisa bantu?”

Arga mengelola kampanye itu dengan sepenuh hati. Ia membuat trailer video, poster digital, dan membaca ulang naskahnya berkali-kali hingga hafal dialognya.

Hasilnya di luar dugaan:

  • 200 buku terjual dalam 10 hari,
  • keuntungan bersih lebih dari Rp20 juta,
  • nama penerbit Arga meledak di komunitas penulis.

 

Dalam waktu satu tahun:

  • Ia menerbitkan 32 judul buku,
  • memiliki tim kecil berisi 5 orang, dan
  • pindah ke ruko sederhana sebagai kantor pertamanya.

 

Ketika ia berdiri di depan pintu kantor itu untuk pertama kalinya, ia mengingat hari-hari ketika ia hanya punya Rp300.000 di kantong dan segunung keraguan dalam kepala.

Ia menatap langit dan berkata pelan:

“Terima kasih, Arga yang dulu tidak menyerah.”

Ketika memberi seminar, Arga selalu mengatakan, “Modal terbesar bukanlah uang. Modal terbesar adalah keberanian melihat peluang kecil, lalu melangkah meski semua orang bilang itu mustahil.”

Dan kisahnya menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa mimpi besar sering lahir dari langkah kecil—dan keyakinan untuk tidak berhenti di tengah jalan.


News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door